VISI:
Melahirkan generasi muslim yang berpribadi Qur’ani unggul dalam Bahasa, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.
MISI:
1. Meningkatkan kwalitas pembelajaran Ulumul Qur’an.
2. Menyelenggarakan program pembinaan pribadi Qur’ani secara intensif.
3. Meningkatkan program pembinaan dan pembiasaan berbahasa Arab & Inggris.
4. Melaksanakan pembelajaran secara efektif dan menyenangkan.
Lima
belas tahun yang lalu di Yogyakarta muncul lembaga pendidikan Islam yang
menamakan diri Sekolah Islam Terpadu (selanjutnya disingkat SIT)
ditambah dengan nama full day school dan boarding school. SIT ini
berdiri sejak dari Taman Kanak-Kanak sampai dengan Sekolah Menengah Atas.
Siswa-siswa sekolah ini berada di sekolah sejak pagi sampai sore, bahkan
sebagian tinggal di asrama. Berturut-turut berdiri Taman Kanak- Islam Terpadu
(TKIT) Muadz Bin Jabal 1993/1994, Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Lukman Hakim
1995/1996, Sekolah Menengah Pertama Islam Terpadu (SMPIT) Abu Bakar 2001/2002.
Sekolah Menengah Atas Islam Terpadu (SMAIT) Abu Bakar 2004/2005.(Maksudin,
2006, hlm. 3). Informasi yang ada menunjukkan bahwa peminat SIT cukup
banyak Di beberapa tempat peminatnya melebihi sekolah-sekolah konvensional.
Mengapa
Sekolah Menengah Pertama Islam Terpadu Abu Bakar ( SMP IT Abu Bakar) berdiri di
Yogyakarta? Dari informasi yang ada menunjukkan bahwa sekolah-sekolah
konvensional di Yogyakarta pada umumnya dan sekolah Islam pada khususnya,
dipandang oleh para pendiri SIT seperti mozaik tak berwarna, terlihat
lukisannya, tetapi sulit dibaca alur dan bentuknya. (Maksudin, 2006, hlm. 22).
Secara fisik pendidikan konvensional saat ini jelas keberadaannya, tetapi secara
konseptual sulit dibedakan dengan pendidikan lainnya (Maksudin, 2006, hlm. 22).
Selain itu sekolah konvensional yang ada dinilai tak lagi mamadai
manampung aspirasi sebagian anggota masyarakat. Aspirasi apa ? Dari hasil
wawancara menunjukkan bahwa sekolah konvensional dianggap tak memadai
membentuk kepribadian anak didik (kepribadian Islam maupun
nasionalisme/cinta tanah air). Sekolah konvensional –yang hanya belajar selama
7 jam dalam sehari di sekolah—lebih banyak membangun kecerdasan atau
lebih berorientasi pada penguasaan materi secara teoritis (Wawancara penulis
dengan Kep. Sek. SMPIT Abu Bakar Yk, Sabtu 20/03/2009). Sementara aspek
afektif yang tak kalah pentingnya dalam dunia pendidikan — pembentukan
kepribadian Islam — sering terabaikan. (Wawancara penulis dengan
Kep-Sek. SMPIT Abu Bakar Yk, Sabtu 20/03/2009).
Dilihat
dari idealisme pendidikan, tampaknya SMP IT Abu Bakar dengan full day
school dan boarding school di Yogyakarta cukup menjanjikan untuk mengatasi
tertinggalnya pembelajaran aspek afektif dan psikomotor PAI yang selama ini
banyak dikeluhkan sejumlah pihak yaitu; waktu yang tersedia pendek, materi dan
internasilisasi nilai Islam tertinggal dan paham nasionalisme yang hegemonik.
Terkait
dengan judul di atas, maka dengan hadirnya SMP IT Abu Bakar pembelajaran PAI
di sekolah tersebut memperoleh kesempatan yang sangat baik
untuk merealisasikan idealismenya. Sejauh informasi yang ada
menunjukkan bahwa para pengelola sekolah ini bertekad
dan berusaha keras membentuk lingkungan yang religius/Islami SIT. (Wawancara
penulis dengan Kep. Sek. SMPIT Abu Bakar, Sabtu, 21 Maret 2009). Kritik sejumah
pakar bahwa pembelajaran PAI sekarang sedang bergeser dari Pendidikan
Agama Islam menjadi Pengajaran Islam- dijawab oleh sekolah-sekolah
ini dengan SIT full day school dan boarding school..
Mengapa
penelitian ini mengambil tempat di SMP IT Abu Bakar
Yogyakarta?
Kekhasan
yang dimiliki SMP IT Abu Bakar kota Yogyakarta adalah fullday school dan
boarding scholl. Para Siswa yang sekolah di sini belajar sejak pagi sampai
sore, bahkan sebagian dari mereka tinggal di asrama. Khusus bagi mereka yang
yang tinggal di asrama, secara total belajar 24 jam dalam pengawasan guru
dan memiliki aturan-aturan yang tidak dimiliki sekolah lain (Buku Panduan SMP
IT Abu Bakar,Yogyakarta, 2008).
Untuk ukuran usia
lembaga pendidikan, 15 tahun masih sangat muda. Tetapi pretasi yang di capai
SIT cukup meyakinkan; 2001/2002 s/d 2005 /2006. Contoh SMPIT Abu Bakar 1.
Rangking 2 SMP Swasta dan rangking 9 SMP Negeri/swast se kota madya Yogyakarta 2.
Rangkin 5 jumlah nilai Unas se DIY 3. Juara III loma TOP Challenge of
physics F MIPA UGM 3. Juara II aplikasi elektronik SMP se DIY 4. Juara 3
lomba rancang bangun elektronik Diknas DIY.dll. (Wawancara penulis dengan
Kep. Sek. SMPIT Abu Bakar, Sabtu, 21 Maret 2009).
B. Rumusan Masalah
Dari uraian di atas,
permasalahan yang akan diteliti adalah :
1. Apa relevansi
Fullday Shool dan Boarding School dengan implementasi PAI ?
2. Bagaimana pola
pembelajaran PAI melalui ‘pembentukan suasana religius’ di
SMP IT Abu Bakar
full day dan boarding school.
3. Apa faktor
penghambat dan faktor pendukung pembelajaran PAI tersebut ?
Pendekatan dan
konsep
Pendekatan dan
konsep yang akan digunakan dalam penelitian ini sbb:
- Komitmen individu terhadap ajaran Islam
- Hubungan vertical
- Hubungan horizontal
2.
Tindakan dan pemikiran individu (Ilmu dan amal)
- Interaksi social di sekolah
- Interaksi professional
- Interaksi kesedarajatan/kemanusiaan
4. Komitmen
terhadap pengelolaan lingkungan
Definisi
Yang dimaksud dengan religius ? Menurut kamus besar
bahasaIndonesia, religius berarti bersifat religi atau agama, atau bersangkut paut
dengan agama (Kamus Besar BahasaIndonesia, 2000). Pembentukan suasana
religius berarti menciptakan suasana keagamaan. Dalam kontek PAI berarti
membentuk suasana agama Islam di sekolah.
Ruang lingkup
Ruang lingkup
penelitian ini adalah pembentukan suasana religius di sekolah
yang meliputi: 1.
komitmen malkan ajaran Islam diantara para pengelola: Kep. Sekolah, guru,
staf dan siswa muslim 2. Loyalitas pengelola, guru, staf dan siswa terhadap
aturan : hubungan dengan atasan dan bawahan atau hubungan professional,
hubungan kemanusiaan/kesederajatan. Sedangkan hubungan dengan alam sekitar
yaitu membangun komitmen untuk menjaga sarana dan prasarana sekolah: tempat
ibadah, kebersihan dan keindahan lingkungan.
Bab 2. Tinjauan
Pustaka
1. Pembentukan Suasana
Religius di Sekolah
Apakah
dimaksud pembentukan suasana religius ? Kalimat tersebut memuat kata kunci ‘religius’.
Religius berarti terkait dengan agama (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2001).
Yang dimaksud dengan suasana religius berarti bersifat religi atau agama,
atau bersangkut paut dengan agama (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2000).
Pembentukan suasana religius berarti menciptakan suasana keagamaan. Dalam
kontek PAI berarti membentuk suasana agama Islam, yang di dalamnya sarat dengan
muatan pendidika.
Atau
dengan kata lain pembentukan situasi religius berarti menciptakan suasana/iklim
kehidupan agamis di sekolah. Dalam kontek PAI maka yang dimaksud dengan pembentukan
suasana religius adalah menciptakan suasana kehidupan agama Islam di
sekolah-sekolah. Lebih jauh dari itu adalah berkembangnya suasana kehidupan
di sekolah yang dijiwai oleh nilai-nilai Islam (Muhaimin, 2005, hlm. 61).
Secara teoritis, factor lingkungan sangat mempengaruhi terhadap perlaki
individu. Hamalik dalam Prihantoro membagi lingkungan menjadi 4 (empat) bagian
yaitu 1. lingkungan social/masyarakat, 2. Lingkungan personal, 3. Lingkungan
alam dan 4. lingkungan cultural (Prihantoro, 2007, hlm. 94). Untuk
membentuk karakter (nilai-nilai baik) pada siswa diperlukan pembinaan terpadu
antara moral knowing dan moral feeling. Pembentukan suasana adalah upaya implementasi
dari moral knowing dan moral feeling (Muhaimin, 2005, hlm. 58).
2. Membangun Hubungan Vertikal dan Horizontal
Apa
saja yang religius itu ? Dalam kontek PAI, yang religius adalah hubungan
vertical yaitu manusia dengan Tuhan: Shalat, puasa, zakat.Bentuk
kongkritnya adalah shalat berjama’ah, puasa wajib ramadhan, puasa sunnah senin-
kamis. Hubungan horizontal adalah hubungan sesame manusia dan
dengan alam sekitar. (Muhaimin, 2005, hlm. 62). Hubungan sesame manusia
meliputi: komitmen menegakkan moral force dan hubungan profesional
kepada sesame siswa/karyawan dan guru, kepada atasan atau bawahan. Menegakkan
moral force di sekolah dalam bentuk: loyalitas kepada atasan sesuai dengan
aturan yang ada, penghargaan kepada individu yang berprestasi, memberikan
hukuman bagi yang bersalah.Sedangkan membangun hubungan professional di sekolah
dalam bentuk komunikasi yang positif mendorong ke arah kemajuan lembaga
Sedangkan menciptakan lingkungan religius dilakukan dalam bentuk komitmen
menjaga kebersihan lingkungan, tempat ibadah, (Muhaimin, 2005, hlm. 63).
3. Urgensi Pembentukan Suasana Religius
Fikiran
normal akan mengatakan bahwa sesuatu yang tak masuk akal jika belajar Islam
–baik sains maupun internaliasinya- hanya sekali atau dua kali tatap muka dalam
seminggu. Sementara beban materi keislaman sedemikian padat. Apakah PBM
PAI dengan waktu yang pendek, materi sangat banyak dapat berjalan dengan
baik ? Sangat sulit menjawab pertanyaan ini. .Melihat kenyataan ini, maka
demi suksesnya PMB PAI diperlukan paradigma yang berbeda dalam model
pembelajaran. Pembelajaran PAI. Apa yang dimaksud dengan paradigma yang berbeda
? Yaitu para siswa di sekolah sehari penuh bahkan bagi yang tinggal di
asrama belajar selama 24 jam dalam control guru.. Namun demikian, suksesnya
pembelajaran PAI merupakan kerjasama dan berbagi tugas antara sekolah,
orang tua/keluarga dan masarakat (Sri Haningsih, 2006, hlm. 9). Selain itu juga
diperlukan pembinaan terus menerus di jam resmi sekolah ataupun di luar
sekolah.
4.
Boarding School
Encylopdia
From Wikipedia menerangkan bahwa boarding school adalah lembaga pendidikan di
mana para siswa tidak hanya belajar tetapi juga bertempat tinggal dan hidup
menyatu dengan di lembaga tersebut (Wikipedia; http://en.wikipedia.org/wiki/Boarding School). Boarding School mengkombinasikan
tempat di rumah, dipindah ke institusi sekolah, di mana di sekolahb tersebut
disediakan berbagai fasilitas tempat tinggal; ruang tidur, ruang tamu, ruang
belajar dan tempat olah raga, perpustakaan, kesenian.
Maksudin
mendefinisikan bahwa boarding school adalah sekolah yang memiliki asrama, di
mana para siswa hidup; belajar secara total di lingkungan sekolah. Karena itu
segala jenis kebutuhan hidup dan kebutuhan belajar disediakan oleh sekolah
(Maksudin, 2006, hlm.8). Mengapa boarding school ? Jawabnya adalah karena
kelebihan model sekolah ini. Adapun kelebihannya yaitu: kelas lebih kecil,
semua siswa dapat berpartisipasi dalam program belajar, mutu akademik dan skill
menjadi prioritas boarding school, dapat memanfaatkan secara optimal
sumber-sumber belajar, dan dapat berkomunikasi langsung dengan pembimbing
(Maksudi, 2006, hlm.8).
Relevansi
PAI dengan boarding school adalah model pembelajaran ini dinilai sangat baik
untuk mengimplemantasikan pembelajaran PAI yang berorientasi pada muatan
afektif dan psikomotor..Menurut sejumlah studi, boarding school menjadi standar
bagi pendidikan yang berkarakter yakni proses rekayasa anak didik dinilai lebih
baik dan out-putnya dapat dipertanggung jawabkan. Relevanansi lain yaitu materi
PAI yang menuntut internalisasi nilai Islam dalam diri siswa, sangat mungkin
dapat dilakukan dan dikembangkan pada sekolah system boarding school.
Dalam boarding school secara umum akan terbentuk: komunitasi edukatif antara
guru, siswa dan lingkungan, terjadi kedekatan siswa dengan guru, perilaku
siswa terkontrol, problem yang timbul segera terpecahkan, seluruh
kegiatan terjadwal (Maksudi, 2006, hlm. 8).
5. Inti Persoalan
Sejumlah
masalah dijumpai pada implementasi PAI di sekolah-sekolah. Secara umum,
masalah implementasi PAI dapat dikelompokkan menjadi 2 bagiann yaitu problem
internal dan problem eskternal. Problem internal yaitu: a. waktu
pembelajaran PAI yang secara formal sangat terbatas, sementara itu,
materi PAI yang sedemikian banyak harus disampaikan pada anak didik. B.
Tuntutan PAI yang lebih banyak pada komitmen aplikasi moral/nilai
disamping cogniitif, mengalami kendala. Kendala tersebut adalah komitmen mengontrol,
memberi teladan dan arahan kepada anak didik, sehingga proses
internalisasi nilai Islam pada didi anak dapat berjalan. Problem
eksternal yaitu tantangan sisi negatif modernisasi; materialisme,
sekularisasi, alianasi dll., semuanya itu dampak sampingan pembangunan yang
menjadi kebutuhan bangsa Indonesia.
Secara
sadar keterangan di atas menunjukkan bahwa betapa PAI sedang dililit persoalan
yang sedemikian berat, sehingga tak terbayangkan akibat negatif yang akan
terjadi di masa depan jika tidak ada usaha-usaha yang serius pada saat ini.
Melihat
masalah di atas, kami tidak mungkin membahas semua problem besar tersebut. Satu
dari sekian banyak masalah adalah upaya mengatasi keterbatasan jam
belajar PAI, mengontrol perilaku anak dan memberikan keteladanan. Semua hal
tersebut terakum dalam komitmen implementasi PAI dengan membentuk suasana
religius di sekolah.
pembentukan
suasana religius di sekolah meliputi: 1. komitmen malkan ajaran
Islam diantara para pengelola: Kep. Sekolah, guru, staf dan siswa muslim 2.
Loyalitas pengelola, guru, staf dan siswa terhadap aturan : hubungan
dengan atasan dan bawahan atau hubungan professional, hubungan
kemanusiaan /kesederajatan. Sedangkan hubungan dengan alam sekitar yaitu
membangun komitmen untuk menjaga sarana dan prasarana sekolah: tempat ibadah,
kebersihan dan keindahan lingkungan.
6. Keterkaitan
1. Relevansi
Pembentukan Suasana Religius di Sekolah dengan PAI
Apakah
relevansi pembentukan suasana religious dengan PAI ? Kalimat tersebut
memuat kata kunci ‘relevansi’. Relevensi berarti terkait dengan
agama Islam (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2001). Relevansi Pembentukan situasi
religius berarti keterkaiatan langsung PAI. Lebih jauh dalam kontek PAI maka
yang dimaksud dengan relevansi pembentukan suasana religius dengan PAI
adalah menciptakan suasana kehidupan agama Islam di sekolah-sekolah untuk
kepentinan PAI. Lebih jauh dari itu adalah berkembangnya suasana
kehidupan di sekolah yang dijiwai oleh nilai-nilai Islam (Muhaimin, 2005, hlm.
61). Secara teoritis, factor lingkungan sangat mempengaruhi terhadap perlaki
individu. Hamalik dalam Prohantoro membagi lingkungan menjadi 4 (empat) bagian
yaitu 1. lingkungan social/masyarakat, 2. Lingkungan personal, 3. Lingkungan
alam dan 4. lingkungan cultural (Prihantoro, 2007, hlm. 94). Untuk
membentuk karakter (nilai-nilai baik) pada siswa diperlukan pembinaan terpadu
antara moral knowing dan moral feeling. Pembentukan suasana adalah upaya
implementasi dari moral knowing dan moral feeling (Muhaimin, 2005, hlm. 58).
2.
Implementasi Suasana Religius dengan Membangun Hubungan Vertikal dan
Horizontal
Apa
bentuk nyata yang religius itu ? Dalam kontek PAI, bentuk nyata yang
religius adalah membangun hubungan vertical yaitu manusia dengan Tuhan:
Shalat, puasa, zakat, shalat berjama’ah, puasa wajib ramadhan, puasa
sunnah senin- kamis. Hubungan horizontal adalah hubungan sesama
manusia dan dengan alam sekitar. (Muhaimin, 2005, hlm. 62). Hubungan sesama
manusia meliputi: komitmen menegakkan moral force dan hubungan
profesional kepada sesame siswa/karyawan dan guru, kepada atasan atau bawahan.
Menegakkan moral force di sekolah dalam bentuk: loyalitas kepada atasan sesuai
dengan aturan yang ada, penghargaan kepada individu yang berprestasi,
memberikan hukuman bagi yang bersalah.Sedangkan membangun hubungan professional
di sekolah dalam bentuk komunikasi yang positif mendorong ke arah kemajuan
lembaga Sedangkan menciptakan lingkungan religius dilakukan dalam bentuk
komitmen menjaga kebersihan lingkungan, tempat ibadah, (Muhaimin, 2005,
hlm. 63).
3. Urgensi
Pembentukan Suasana Religius Terkait PAI
Fikiran
normal akan mengatakan bahwa sesuatu yang tak masuk akal jika belajar Islam
–baik sains maupun internaliasinya- hanya sekali atau dua kali tatap muka dalam
seminggu. Sementara beban materi keislaman sedemikian padat. Apakah PBM
PAI dengan waktu yang pendek, materi sangat banyak dapat berjalan dengan
baik ? Sangat sulit menjawab pertanyaan ini. .Melihat kenyataan ini, maka
demi suksesnya PMB PAI diperlukan paradigma yang berbeda dalam model
pembelajaran. Pembelajaran PAI. Apa yang dimaksud dengan paradigma yang berbeda
? Yaitu para siswa di sekolah sehari penuh bahkan bagi yang tinggal di
asrama belajar selama 24 jam dalam control guru.. Namun demikian, suksesnya
pembelajaran PAI merupakan kerjasama dan berbagi tugas antara sekolah,
orang tua/keluarga dan masarakat (Sri Haningsih, 2006, hlm. 9). Selain itu juga
diperlukan pembinaan terus menerus di jam resmi sekolah ataupun di luar
sekolah.
4. Relevansi Boarding School dengan PAI
Boarding
school adalah sekolah yang memiliki asrama, di mana para siswa hidup; belajar
secara total di lingkungan sekolah. Karena itu segala jenis kebutuhan hidup dan
kebutuhan belajar disediakan oleh sekolah (Maksudi, 2006, hlm.8). Mengapa
boarding school ? Jawabnya adalah karena kelebihan model sekolah ini. Adapun
kelebihannya yaitu: kelas lebih kecil, semua siswa dapat berpartisipasi dalam
program belajar, mutu akademik dan skill menjadi prioritas boarding school,
dapat memanfaatkan secara optimal sumber-sumber belajar, dan dapat
berkomunikasi langsung dengan pembimbing (Maksudi, 2006, hlm.8).
Relevansi
PAI dengan boarding school adalah model pembelajaran ini dinilai sangat baik
untuk mengimplemantasikan pembelajaran PAI yang berorientasi pada muatan
afektif dan psikomotor..Menurut sejumlah studi, boarding school menjadi standar
bagi pendidikan yang berkarakter yakni proses rekayasa anak didik dinilai lebih
baik dan out-putnya dapat dipertanggung jawabkan. Relevanansi lain yaitu materi
PAI yang menuntut internalisasi nilai Islam dalam diri siswa, sangat
mungkin dapat dilakukan dan dikembangkan pada sekolah system boarding
school. Dalam boarding school secara umum akan terbentuk: komunitasi edukatif
antara guru, siswa dan lingkungan, terjadi kedekatan siswa dengan guru,
perilaku siswa terkontrol, problem yang timbul segera terpecahkan,
seluruh kegiatan terjadwal (Maksudi, 2006, hlm. 8).
5. Kritik Teoritik
Parapakar
studi Islam sepakat bahwa banyak masalah dalam implementasi pembelajaran bidang
studi PAI di sekolah-sekolah. Sejumlah masalah tsb diidentifikasi sbb:
pembelajaran PAI yang berjalan di sekolah-sekolah lebih berorientasi pada aspek
kognitif dari pada kesadaran nilai. Hal ini dibuktikan dengan sejumlah fakta di
lapangan yang menunjukkan bahwa siswa sangat fasih bicara sain-sain keislaman
–filsafat kalam, tarikh tasjri’, ilmu falaq, ulumul Qur’-an dan hadis, fiqh
ibadah, fiqh mu’amalah dll—tak tanggung-tanggung dengan nilai amat memuaskan.
Tetapi di sisi lain, pada saat yang sama sejumlah siswa melakukan hal-hal yang
berlawanan; perkelaian, narkoba, minuman keras, anarkisme dll. Hanya itu ?
Ternyata ada gejala lain di atas yaitu pembelajaran PAI
mengabaikan atau cenderung meninggalkan aspek afektif yakni pembelajaran yang
mendorong siswa bertekad mengamalkan ajaran Islam. Kenyataan di lapangan
para guru mengajar PAI mengarah ke aspek cognitive (Sejumlah Penelitian di
FAI). Mengapa hal ini terjadi ? Sejumlah informasi yang penulis dapatkan
di lapangan antara lain karena (1) aspek cognitive lebih mudah
pencapaiannya juga mudah cara mengukurnya. (Wawancara), (2) pembelajaran
afektif sulit pengukurannya. Pengukuran keberhasilan aspek ini tak cukup secara
formal di kelas, tetapi juga non formal di luar kelas. para guru PAI pada
dasarnya sadar bahwa aspek afektifif dalam pembelajaran PAI sangat
penting, bahkan menjadi inti pembelajaran agama (Wawancara) . Akan tetapi para
guru dalam pembelajaran PAI menghadapi sejumlah kesulitan terutama pada internalisasi
nilai. Mengapa ? Karena internalisasi nilai merupakan proses panjang, tak
instant yang hasilnya dapat segera diamati. Di sinilah guru-guru PAI
merasa bebannya sangat berat. Pada satu sisi guru dituntut berhasil dalam PBM
PAI, di sisi lain, guru menghadapi kesulitan serius, pada hal
keberhasilan PAI –dengan tekanan aspek afektif ini– merupakan
tanggung jawab bersama antara guru, orang tua dan masyarakat.. Apa akibatnya
kecenderungan ini? Akibat nyata dari masalah ini adalah
terjadinya kesenjangan antara gnosis dan praxis dalam kehidupan beragama Islam
atau kesenjangan antara ilmu dan amal dalam kehidupan sehari-hari (Muhamiman,
hlm. 23).Ditengarai oleh sejumlah ahli bahwa Pendidikan Agama Islam
dalam praktik sedang berubah menjadi Pengajaran Agama Islam.
Menyedihkan memang, tetapi itu adalah kenyataan.
Sejumlah
informasi menunjukkan bahwa para guru tak kehilangan kreativitas dalam
pembelajaran PAI. Mereka mencoba berbagai metode pembelajaran, seperti;
diskusi, ceramah, karya wisata, (Penelitian di FAI UCY) yang semuanya untuk
suksesnya belajar PAI. Namun demikian, kreativitas tersebut mengidap sejumlah
kelemahan. Metode pembelajaran apapun yang dikembangkan masih dalam kategori
tradisional, akontektual, normative, lepas dari sejarah dan semakin akademis.
Secara materiil, gejala yang sangat menonjol adalah pembelajaran PAI kurang
mendorong atau bahkan tak mendorong sama sekali penjiwaan nilai-nilai Islam
yakni mengubah pengetahuan Islam yang cognitive oriented menjadi nilai
Islam yang value oriented yakni internalisasi nilai Islam dan tekad mengamalkan
ajaran Islam dalam kegiatan sehari-hari.
Tuntutan
implementsi PAI di sekolah-sekolah tak sederhana. Dilihat dari kritik para ahli
dan harapan-harapan masarakat yang dapat di rekam dalam pembicaraan sehari-hari
sbb: pembelajaran PAI hendaklah bukan sekedar penguasaan sain-sains
keislaman par-exellence, yang mengarah pada kecerdasan
ansih, tatapi PAI juga merupakan penanaman nilai keislaman pada diri siswa,
sehingga nilai tersebut menjadi miliknya yang ditampilkan dalam kehidupan
sehari-hari. Selain itu, bidang studi PAI janganlah berjalan sendiri, sebaiknya
sering berinteraksi dengan bidang studi lain agar PAI bukan sekedar
statemen-statemen normative yang berbicara kewajiban-kewajiban, hukuman
dan ganjaran saja. Tetapi PAI juga berbicara tentang perubahan social
atau bahkan ikut serta ambil bagian dalam mengendalikan perubahan social.
Hararapan
di atas berarti meminta bidang studi PAI dan gurunya, keduanya sekaligus
agar memainkan peran yang besar dalam ikut serta membentuk kepribadian siswa
yang baik. Dengan kata lain, misi PAI dikatakan berhasil jika mampu
mengantarkan siswa memperoleh atau menguasai sain-sain keislaman secara baik,
tetapi juga mampu ikut serta membentuk kepribadian muslim
pada diri anak..
Persoalan
yang muncul adalah metode pembelajaran seperti apa yang mampu membentuk
kepribadian secara efektif ? Sejauh ini belum ada yang berani mengklaim
bahwa suatu metode tertentu sangat baik untuk pembelajaran PAI aspek afektif.
Perkembangan yang ada hanya mengindikasikan adanya upaya guru mengkreasi
metode pembelajaran PAI yang paling pas untuk pokok bahasan tertentu dan waktu
tertentu.
Sejumlah
informasi yang ada menunjukkan bahwa sudah banyak dikembangkan model
pembelajaran aspek afektif oleh para guru di sekolah-sekolah, tetapi sejumlah
kritik terhadap model pembelajaran segera hadir. Kritik-kritik tersebut menilai
bahwa model pembelajaran PAI kurang mendorong penjiwaan nilai-nilai
Islam, metode yang digunakan masih dengan cara-cara tradisional; ceramah,
diskusi, Tanya jawab, materi ajar tak kontek dengan perubahan
social, bersifat etis/normative dan doktriner.
6. Kesimpulan Teoritik
Dari uraian di
atas secara teori dapat ditarik kesimpulan bahwa :
- Pembentukan suasana religius yang dikemas dalam Fullday School dan Boarding School dapat menjadi model pembelajaran PAI yang salama ini memiliki sejumlah keterbatasan waktu, keteladanan, kontrol dll.
- Pembentukan suasana religius sangat relevan dengan PAI yang sarat dengan nilai/moral dan perlu komitmen implementasinya.
- Pembentuk sauasana religius dapat menganut pola pembelajaran dua kurikulum: a. Kurikulum formal yang diajarkan di kelas setiap hari b. Kurikulum tersembunyi (hidden curriculum) yakni pembelajaran penanaman nilai di balik setiap kegiatan.
3. Tujuan dan
Manfaat Penelitian
Penelitian
ini bertujuan untuk:
- Mengungkap implementasi pembelajaran PAI di SMP IT Abu Bakar Boarding school.
- Mengungkap pola pembelajaran PAI di di SMPIT Abu Bakar di
Boarding school.
- Nilai-nilai apa yang dikembangkan dalam pembelajaran PAI di SMP IT
AbuBakarBoarding
school.
Manfaat
penelitian ini adalah :
1.Memberikan
konstribusi khasanah literatur metode pembelajaran PAI,
Di tengah luasnya
samudra ilmu.
- Manfaat teoritis yakni mengembangkan bangunan model-model
pembelajaran yang
bermanfaat untuk dijadikan bahan kajian.
3.Manfaat praktis
yaitu manfaat yang dapat dijadikan solusi permasalahan
pembelajaran PAI
di lapangan.
Bab IV. Metode
Penelitian
- Desain Penelitian
Penelitian
dirancang dengan menggunakan field research, pendekatan fenomenologis.
Penelitian ini mendudukkan objek bersifat natural, dan holistik. Subjek
penelitian bersenyawa dengan objek penelitian, karena itu maka penelitian ini
menjadikan subyek penelitian dikonstruk secara ganda. Tujuan ini adalah untuk
memahami makna (versetehen) dibalik fakta.
- Subyek penelitian adalah Kepala Sekolah, Wakil kepala Sekolah, Guru,
karyawan dan
seluruh Siswa SMP IT Abu Bakar Boarding School. Obyek
penelitiannya adalah seluruh
aktivitas Kep. Sekolah, Wakil Kep. Sekolah,
karyawan, guru dan siswa terkait
dengan pembentukan suasana dan
komitmen
melaksanakan ajaran Islam : hubungan vertical, hubungan
horizontal,
hubungan professional, hubungan kemanusiaan sesuai dengan
level dan unit
kerja dan job masing-masing.
- Analisa Data
Analisa yang
digunakan pada penelitian ini adalah analisa bahasa dan konsep. Yang dimaksud
dengan analisa bahasa adalah usaha untuk mengetahui arti yang sesungguhnya dari
suatu peristiwa/perilaku. Sedangkan analisa konsep adalah analisa istilah yang
mewakili suatu gagasan (Imam, 1994, hlm. 90).
Bab V. Hasil dan
Pembahasan Penelitian
A.Sejarah Sekolah
Islam Terpadu (SIT) Kota Yogyakarta
1. Sekolah Islam
Terpadu
Informasi
yang ada menunjukkan bahwa sebelum berdiri SMP IT Abu Bakar, terlebih dahulu
ada sejumlah orang yang memiliki gagasan tentang perlunya pendidikan Islam
terpadu. Sejumlah orang tersebut adalah Mujidin, Ery Masruri, Kholid Mahmud,
Sukamto, Adam Pamuji, Budi Dewantara, Agus Sofwan (Maksudin, 2006, hlm. 21).
Mereka melakukan diskusi rutin tentang pendidikan di Indonesia dengan hasil
sbb: pendidikan Islam zaman klasik menghasilkan pribadi-pribadi unggul,
seperti Abu Bakar, Umar Ibn Khattab, Usman Ibn Affan, Ali Ibn Abithalib
dll. Mereka adalah pengendali negara, bussinessman, sekaligus ulama. Demikian
juga pada era thabiin-thabiin; Al-ghazali, Ibn Rusjd, al-Kindi dll.
Bagaimana
out-put pendidikan Indonesia ? Secara umum, menurut hasil diskusi mereka,
out-pendidikan di Indonesia dapat dikelompokkan menjadi 2 (dua): sebelum
kolonial dan pasca kolonial. Ringkasnya, pendidikan sebelum kolonial
menghasilkan tokoh-tokoh qualified: Teuku Umar, Imam Bonjol, Pangeran
Diponegoro dll. Perlu juga disebut fatahillah –designer kota Jakarta-.
Sekolah Islam terpadu yang akan mereka dirikan memiliki akar
historis yang Qur’ani dan Nabawi (Maksudin, 2006, hlm 21). Fenomena tersebut
yakni: kepribadian para nabi yang utuh, seperti; Nuh as, Musa as, Sulaiman as,
Yusuf as., dll.
Dengan
kata lain, out put pendidikan Islam di Indonesia sebelum kolonial; melahirkan
pribadi yang utuh, seperti; fatahillah, wali sanga, dll. Setelah kolonial
melahirkan tokoh-tokoh yang memiliki kepribdian terpecah; beragama Islam,
tetapi berpolitik, berekonomi tak Islami dll. Pendidikan Islam moderen di
Indonesia menurut hasil kajian kelompok di atas, memiliki sejumlah kelemahan
serius: 1. Disorientasi, 2. Alienasi, 3. Simplifikasi, 4. Sekularisasi
(Maksudin, 2006, hlm. 22).
Problem
Disorientasi.
Problem
ini muncul akibat perubahan sosial yang dimotori oleh ilmu dan teknologi
begitu cepat, sehingga setiap orang/masyarakat dituntut menyesuaikan diri
dengan tuntutan dunia industri dan informasi, termasuk dalam pendidikan
Islam.Akibatnya, pertimbangan-pertimbangan pragmatis sangat dominan dalam
pendidikan Islam yakni alumni yang siap kerja dalam dunia industri. Hal ini
sisi negatif dari industrialisasi adalah melahirkan dunia pendidikan yang
pragmatis, menyelesaikan persoalan sesaat dan aspek idealisme pendidikan
tertinggal.
Problem simplifikasi.
Problem
ini muncul akibat dari tuntutan kesejahteraan ekonomi (prosperety) sehingga
ukuran-ukuran ekonomi menjadi standar kehidupan. Dunia pendidikan menjadi
sarana untuk menciptakan anak didik menjadi mesin pencetak uang sebanyak-banyaknya.
Kehidupan spiritual menjadi terabaikan. Nilai moral berlaku di wilayah
tertentu, dan eksklusif dan membawa nilai moral dalam dunia ekonomi dan
industri menjadi kampungan.
Problem alienasi.
Yang
dimaksud dengan problem alienasi adalah terpisahnya dua realitas sosial yang
berbeda. Satu sisi, dunia industri yang bebas nilai/moral dan harus dimaklumi,
sementara itu dunia pendidikan yang syarat nilai/moral seperti padepokan suci
dan harus dijaga keutuhahannya. Anak didik akan mengalami hal yang sangat
berlawanan dunia nyata, ketiak terjun di dunia kerja dan masyarakat.
Problem Sekularisasi.
Sekular
artinnya kekinian dan ke disinian. Yang dimaksud dengan problem sekularisasi
adalah problem berkembangnya paham hidup yang mementingkan kekinian dan ke
disinian. Hal ini berarti mengabaikan urusan urusan akhirat. Paham semacam ini
sangat mempengaruhi terhadap dunia pendidikan, mungkin masih menempatkan agama
sebagai mata pelajaran, tetapi hanya sebagai kepantasan saja. Out-put
pendidikan ini berkarakter materialistis, religius labelling.
Dalam
kontek itulah Sekolah Islam Terpadu didirikan. Berdirinya Sekolah Islam Terpadu
selanjutnya disingkat SIT, berupaya membangun kembali paradigma pendidikin
Islam yang meliputi: rekonstrukti epistimelogi, visi misi, metode pembelajaran,
kelembagaan dan pengembangan kepribadian muslim. Adapun paradigma baru yang
dimaksud berbasis pada: Kesempurnaan Islam sebagai Addien, manusia sebagai
khalifah di muka bumi, kewajiban melakukan pendidikan, kewajiban melakukan dakwah.
Yang
dimaksud dengan rekonstruksi epistimologi adalah membangun
kembali metodologi keilmuan. Metodologi ilmu disesuaikan dengan visi dan misi
Islam. Dalam hal ini adalah metode pembelajaran yang berbasis nilai Islam.
Rekonstruksi fisik yakni penataan fisik; masjid, asesories, dan cara berpakaian
guru, pimpinan para pengambil kebijakan. Rekonstruksi kepribadian muslim. Hal
ini membutuhkan waktu panjang dan evolutif. Hal ini adalah pengaruh timbal
balik antara rekonstruksi keilmuan dan fisik.
Untuk
menjalankan rekonstruksi di atas, diperlukan konsep pendidikan Islam terpadu
yang berasaskan: a. Kesempurnaan Islam sebagai Addien, b. Status manusia
sebagai khalifah fil ardhi, c. Kewajiban orang mendidik anak d. Kewajiban
dakwah (Ery Masrury: hal. 7-8).
B. SMP IT Abu Bakar Boarding School
Yogyakarta
Secara historis SMP IT Abu
Bakar ‘Boarding School’ memperoleh
inspirasi dari sejarah Islam klasik dan sejarah
pendidikan Islam Indonesia –
pondok pesantren–. SMP IT Abu Bakar Boarding
School berdiri di atas
beberapa prinsip: kerja sama, keseriusan, dakwah,
kontinyuitas dan
keterpaduan. SMP IT Abu Bakar berdiri pada tahun,
2000/2001.
- Susunan Pengurus Yayasan SMP IT Abu Bakar Boarding School
Agus
Sofwan –kepala sekolah SMP IT Abu Bakar—mengatakann bahwa SMP IT Abu Bakar tak
lepas berdirinya TK IT Mu’adz Bin Jabal, SD IT Lukman al-Hakim dan SMA IT Abu
Bakar. Meskipun secara formal sekolah-sekolah tersebut berdiri di bawah yayasan
berbeda, tetapi secara personal orangnya sama, hanya berganti posisi. Sejauh
data yang ada, personalia pendiri SMP IT Abu Bakar Boarding School sbb:
- Pembina : Drs. H. Sunardi Sahuri
- Ir. Kholid Mahmud, MT.
- Ketua Yayasan: Drs. Ery Masruri
- Sekretaris : Muhaimin SH., KN.
- Bendahara : H. Suranto, MT.
- Bidang Pend. dan Peng.: Drs. Agus Sofwan dan Drs. Mjudjidin, Mpsi
- Bidang Penel.Pengembangan: Dr. Sukamta dan Dr. H. Adam Pamudji
- Rahardja, MSc.
Pada
awalnya, ada cita-cita dari pengurus yayasan keinginan mendirikan SMP IT.
Kemudian, diadakan workshop di PP Ibnul Qayyim, Yogyakarta. Hasil workshop
trersebut diajukan kepada Dewan Dakwah Prop. DIY dan Badan Wakaf PDHI DIY.
Disepakati dalam pertemuan tersebut akan didirikan SMP IT Abu Bakar. Atas
prakarsa salah seorang donatur –H. Islami’l pemiliki Toko Batik Terang Bulan—memberikan
infak yang cukup untuk mendirikan lokal SMP IT Abu Bakar. Sejauh ini sudah dua
kali pergantian kepala sekolah: 2000/2001 s.d. 2003/2004 : Drs. Agus
Sofwan, 2003/2004 s.d. sekarang Ahmad Salim, Sag.
- Visi, misi dan tujuan SMP IT Abu Bakar Boarding School Yogyakarta
Visi
SMP IT Abu Bakar adalah menciptakan generasi Islam terbaik untuk mencapai
kejayanaan peradaban Islam. Misinya yaitu ngimplementasikan pendidikan
Islam terpadu dengan berbasis pada organisasi sekolah sehat, kurikulum
terintegrasi dan SDM yang unggul.
Tujuan
SMP IT Abu Bakar Boarding School mencakup 4 hal; Pertama; mengintegrasikan ayat
kauniyah dan qauliyah, iman, ilmu dan amal. Kedua, mengintegrasikan fikriah,
ruhiah dan jasadiah. Ketiga, meluluskan siswa yang beraqidah lurus, beribadah
secara benar, berakhlak mulia, berfikir ilmiah, berkepribadian mandiri,
kretaif, disiplin dan berbadan kuat. Keempar, mendorong siswa bersemangat,
penuh empati dan bertindak sepenuh hati. Mewujudukan generasi muslim berilmu,
berwawasan global, bermanfaat bagi kemajuan Islam kaum muslimin (Dokumnetasi
SMP IT Abu Bakar Boardingn School Yogyakarta).
Keempat
rumusan tersebut dapat disimpulkan sbb: nilai integrasi, interkoneksi, dan
keseimbangan. Ketiga nilai tersebut menjiwai susunan kurikulum yang dibuat di
SMP IT Abu Bakar Boarding School Yogyakarta.
- Sistem Boarding School
Sistem Boarding
School adalah model pendidikan yang diselengarakan secara penuh 24 jam. Siswa
dan pengasuh/guru tinggal bersama-sama, dalam suatu tempat, disediakan tempat
tinggal, jadwal pengajaran dan kegiatan-kegiatan lain.
Model
pendidikan boarding school setidaknya memiliki 2 pra-syarat pokok yang harus
dipenuhi; komponen fisik dan non fisik. Komponen fisik meliputi; masjid, ruang
belajar, ruang tinggal (asrama). Asrama tinggal harus memenuhi syarat ruang: 4,
2m ditambah 1,6 m, jarak antar tempat tidur 0,9 m. Jendela minimal 0,5 m. Untuk
setiap siswa memerlukan tempat 2,3 m, disediakan bathtub setiap 10 siswa.
Disamping itu ada ruang hall, ruang makan, fasilitas dapur, seni dan olah raga.
Komponen
fisik yaitu segala aturan yang diterapkan disertai sangsi-sangsinya; jadwal
shalat jama’ah lima waktu, kultum, piket kebersihan, keamanan, jam
belajar, izin keluar komplek dll. Kedia syarat di atas sudah dipenuhi oleh SMP
IT Abu Bakar Boarding School. Adapun secara lebih ribnci sbb:
- Komponen fisik: Masjid, ruang kelas, ruang asrama, perpustakaan, laborat, aula, lap. Olah raga, ruang guru, POMG, perumahan kep. Sekolah. (LLC., Boarding School, 2003). Penataan fisik sbb: masjid berada di tengah antara sekolah dan asrama, kemudian lingkungan masyarakat. Gedung 1 unit 3 lantai.lantai 1 untuk sayap Barat: kelas III putri, Sayap timur untuk kantor. Sedangkan kelas III putra pada lantai II. Lantai II sayap timur untuk kelas VIII putri, dan sayap timur untuk kelas VII putri. Sedangkan lantai III untuk kelas VIII putra, dan sayap tumur untuk kelas VII putra.
Penataan
ruang dimaksudkan agar siswa tahu adab/etika berumah tangga dengan baik, kelas
ditempati jenis kelamin yang sama, agar mereka terjaga dari hal-hal yang
negatif. Ruang kepala sekolah dan
wakilnya
ditempatkan pada strategis agar dapat mengontrol semua aktivitas pembelajaran
dan perkantoran. Jumlah asrama ada 7, 3 untuk putra dan 4 untuk putri.
Fasilitas
fisik dilengkapi dengan: kamar tidur, tempat tidur, kamar mandi, WC, almari
pakaian dll. Ukuran ruang untuk masing-masing siswa 3 x 4 m. Fasilitas olah
raga disediakan di sebelah Barat masjid Abu Bakar. Faslitas olah raga tersebut
meliputi: volley ball, tenis meja, sepak bola, badminton dll.
- Komponen non fisik: program pembelajaran regular (kurikulum resmi: pembelajaran di kelas dan luar kelas, laboratorium dan takhfidzul qur’an menghafal al-Qur’an paling tidak 3 tahun hafal 3 s.d. 4 juz al-Qur’an.
Perekrutitan
tenaga guru, administrasi: dilakukan dengan seleksi secara ketat. Materi
seleski meliputi: Ideologi keislaman, komitmen perjuangan, kemampuan
profesional, kesehatan dll. Sedangkan pengangkatan serta pemberhentian kepala
sekolah, guru dan staf diusulkan dalam rapat oleh sekolah atas dasar kebutuhan
di sampaikan kepada BPH.
Pola
pembinaan guru dilakukan sbb: secara periodik dengan materi terpogram, bagi
tenaga pengajar ilmu eksakta disiapkan syari’ah, sedangkan tenaga pengajar ilmu
dieniah disiapkan pola syari’ah dan metode pembelajaran. Pembinaan
potensi dilakukan kepada guru dengan cara up-grading dan training terjadwal.
Pembinaan kepada guru tentang ilmu agama berkaitan dengan keilmuan klasik dan
penguasaan fardhu Ain dan Kifayah, dilakukan pendalaman tentang psikologi anak.
Tujuan
pembinaan ini dilakukan dalam rangka menumbuhkan komitmen dan dedikasi mengajar
yangb tinggi, profesional dalam menjalalankan tugas baik teoritik maupun
praktik.
- Pola Pembinaan dan proses pembelajaran
Anak yang masuk
ke SMP IT Abu Bakar, diseleksi secara ketat. a. Pengetahuan dasar umum dan
agama yang cukup, b. Bacaan al_qur’an dan takhfidz yang cukup, c. kemampuan
bahasa Inggris dan Arab yang cukup, d. Ahlakul karimah e. Keterlibatan dan
partisipasi orang tua/wali.
Kemudian,
raw in-put tersebut dianalisa karakteristiknya, dibuat kontrak belajar,
diketahui bakatnya, dan motivasi belajar. Hasil analisa disampaikann kepada
guru dan dibuat kelompok belajar. Dengan data tersebut guru dapat merencanakan
pola pembinaan yang pas buat masing-masing kelompok. Masing-masing kelompok
didampingi seorang guru.
Proses
pendidikan yang diberikan kepada siswa berprinsip pada: seluruh waktu adalah
proses pembelajaran, guru mendampingi siswa merefleksikan ilmunya, menciptakan
situasi kondusif di asrama untuk belajar. Misalnya: siswa dikut sertakan pada
aktivitas ibadah qurban, bazaar, bakti sosial, pengajian rutin dengan
masyarakat sekitar, setiap malam jum’at, takziah dan aktivitas bulan ramadhan,
dll.
Bab VI.
Kesimpulan dan Saran
A.Kesimpulan
Dari uraian di
atas dapat ditarik kesimpulan bahwa :
- Fullday School dan Boarding School yang dilakukan oleh SMP IT Abu Bakar sangat relevan dengan PAI yang sarat dengan nilai/moral dan perlu komitmen implementasinya.
- Pola pembelajaran di SMP IT Abu Bakar Boarding School menganut dua kurikulum: a. Kurikulum formal yang diajarkan di kelas setiap hari b. Kurikulum tersembunyi (hidden curriculum) yakni pembelajaran yang berada dibalik formal;
- Menghindari dikotomi ilmu umum dan agama,
- Penanaman nilai dan moral Islam berada pada setiap kegiatan,
- Implementasi pembelajaran sepanjang hari,
- Kontrol anak didik melalui sistem sel: kontrol akademik, kontrol perilaku. Dengan kata lain, seluruh aktivitas siswa selalu terbimbing guru,
- Adanya keteladanan, menghormati posisi masing-masing,
- komitmen untuk melakukan pembelajaran yang terbaik bagi guru dan siswa serta perangkat pendukung lain.
B.Saran
- Model pembelajaran fullday school dan boarding school perlu dipertahankan dan
- perlu perbaikan dibeberapa sisi; mempertimbanghkan kejenuhan, perlunya tekad
- untuk melaksanakan PAI dengan sepenuh hati.
- 2.Fasilitas fisik; lapangan olah raga, badiminton, seni dll, perlu dilengkapi dengan
- sarana yang lebih memadai.
- 3.Penataan fasilitas masih perlu dilakukan; ruang Kep. Sekolah hendaknya dipisah
- dengan ruang administrasi.
Daftar
Pustaka
Felix Sitorus., MT., dkk., ( 2004). Metodologi Kajian
Komunitas.
Magister Profesional Pengembangan Masarakat, Dep. Ilmu
Sosial da Ekonomi, Fak Pertanian IPB dan Sekolah Pasca Sarjana IPB.
Imam Barnadib, ( 1994) Filsafat Pendidikan; sistem dan
metode (Yogyakarta: Andi Offset,
Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001), Dep. Pendidika
Nasioanl, PN. Balai
Pustaka, Jakarta.
Muhaimin ( 2005) Pengembangan Kurikulum PAI di
Sekolah,Madrasah, PerguruanTinggi. Rajawali Press, Jakarta.
Maksudin ( 2006) Pendidikan Nilai Sistem Boarding
School di SMP IT Abu Bakar
(Hasil Penelitian Untuk Disertasi), Program Pasca
Sarjana UIN Sunan
Kalijaga,Yogyakarta.
Prihantoro ( 2007) Peningkatan Minat Belajar IPS
Dengan Memanfaatakn
Lingkungan di SMPN 2 Kedung Banteng, Kab. Banyumas, Jurnal
Penelitian
dan Evaluasi Pendidikan, No.1, Tahun IX, UNY ISSN
14-10-4725.
Sri Haningsih ( 2006) Esensi Pendidikan Islam Dalam
Keluarga, Perspektif Psikologi,
Jurnal Studi Islam, Kopertais, No. 20. Tahun XII. ISSN
0853-6759.
Team Perumus ( 2008). Buku Panduan SMP IT Abu Bakar
Yogyakarta. SMPIT Abu Bakar,Yogyakarta.
Wawancara Penulis dengan Kepala Sekolah SMP IT Abu Bakar
fullDaydanBoarding School(2009).Yogyakarta.
————————–
Daftar Riwayat
Hidup
- N a m a : Taufik Nugroho
- Tempat tgl/lahir: Banyumas, 11/02/1963
Pendidikan:
- IKIPNegeri Yogyakarta, Pendidikan Sejarah, 1981-1987.
- Pasca Sarjana, Magister Studi Islam, UMS 1997-1999.
Karya publikasi
- Metodologi Studi Islam, Jurnal Studi Islam, Mukaddimah Kopertais Wil III., No. 6. th. VI, 1998. ISSN 0853-6759.
- Islam dan Masyarakat Madani, Jurnal Studi Islam, Mukaddimah, Kopertais Wil. III., No. 9. th.VI, ISSN 0853-6759.
- Hubungan Islam dan Negara: Era Orde Baru, Jurnal Studi Islam, Mukaddimah, Kopertais, Wil. III., No. 7. th. V, ISSN 0853-6759.
- Religion and Social Theory, Jurnal Studi Islam, Mukaddimah, Kopertais Wil. III., ISSN 0853-6759.
- Hubungan Islam dan Negara Pancasila (Thesis diterbitkan)., Padma press,Yogyakarta, 2003.
- Mencari Format Ideal Hubungan Negara dan Agama di Indonesia, Jurnal Nuansa
- Akademik, Vol. I, No. 1, September 2005, ISSN 1858-2826.
- Madrasah Dalam Sistem Pendidikan Nasional, Jurnal Ilmu-Ilmu Agama,
- Ulumuddin, Vol. I, No. 1, Sept. 2005, FAI, UCY, ISSN 1907-2333.
- Orang Miskin dilarang Sekolah, Jurnal Ilmu-Ilmu Agama, Ulumuddin, Vol 1. No. 1, Jan. 2006, FAI, UCY, ISSN 1858-2828.
http://faiucy.wordpress.com/2012/03/28/laporan-penelitian/













3 komentar:
klik www.smaitmifkho.wordpress.com
untuk hari sabtu besok masih ada pendafataran
izin copast ya uuuusssst
Poskan Komentar